Sunday, 9 May 2010

Jenglot Menghuni Musium Tosan Aji


 Anda pasti pernah mendengar benda yang bernama jenglot. Sebuah benda yang diyakini banyak orang mengandung tuah itu sudah lekat dalam kehidupan masyarakat. Bahkan tidak sedikit yang meyakini jenglot sebagai “makhluk hidup” yang memiliki energi supranatural dan kekuatan magis yang bisa berpengaruh bagi
kehidupan si empunya.
Jika selama ini Anda hanya mendengar nama tapi belum pernah melihat bentuknya, mungkin untuk menjawab rasa penasaran, Anda bisa mengunjungi museum tosan aji (MTA) yang ada di jalan Mayjend Sutoyo, Purworejo.
Sejak sebulan terakhir, jenglot menjadi “penghuni” baru di obyek wisata sejarah tersebut. Kedatangan jenglot di MTA ini bukan dimaksudkan untuk menggiring logika
masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat mistis, tapi keberadaanya dipahami sebagai salah satu produk budaya masyarakat dan layak untuk diketahui.
“Jenglot ini tidak dikaitkan dengan hal-hal yang supranatural. Kami memajangnya hanya ingin menjadikannya sebagai daya tarik wisata baru. Juga agar dipahami masyarakat bahwa jenglot itu bagian dari produk budaya masyarakat, khususnya Jawa,” papar Kepala UPT MTA Tri Yuliana yang ditemui di kantornya, Jumat (19/3).
Dia berharap, MTA yang selama ini sepi pengunjung bisa ramai dengan adanya tambahan koleksi jenglot. Sehingga akan berdampak positif bagi perkembangan sektor pariwisata, khususnya wisata sejarah di Kabuaten Purworejo.
Diceritakan Tri, jenglot yang diberi nama Bethoro Untung itu sebenarnya termasuk “tamu tak diundang”. Kedatangannya dan kemudian menjadi penghuni MTA bermula saat salah satu karyawan MTA bernama Subowo dari temannya yang bernama Untung, warga Magelang.
“Pak Untung datang kesini dan menemui Mas Bowo. Dia membawa jenglot yang kemungkinan laki-laki. Entah pertimbangannya apa, benda itu diberikan Mas Bowo,” ujarnya menjelaskan asal mula koleksi jenglot tersebut.
Namun, setelah mendapatkan barang yang dianggapnya aneh itu, Bowo tidak berani membawanya pulang. Selanjutnya, atas kesepakatan bersama diputuskan disimpan bersama benda bersejarah lainnya di museum.
Dijelaskan Tri, keberadaan jenglot sendiri hingga kini masih menuai kontroversi. Sebagian orang meyakini bahwa jenglot merupakan perwujudan manusia yang sedang menimba ilmu magis dalam jangka waktu yang lama. Sementara sebagian lainnya meyakini jenglot tidak lebih dari sekedar benda pusaka, seperti batu akik atau keris.
Mendasarkan pada berbagai literatur yang dibacanya, Tri menjelaskan adanya sebagian orang yang mengaitkan jenglot dengan ilmu hitam yang memiliki banyak fungsi. Di sisi yang lain, misalnya aspek ilmiah belum bisa dipastikan jenglot sebagai mahkluk hidup karena tidak memiliki organ tubuh.
Ahli forensik di RSCM Jakarta sebenarnya sudah pernah melakukan penelitian dengan berbagai teknik metodologi, termasuk foto scan. Hasilnya, jenglot tidak memiliki organ tubuh vital, seperti jantung, tulang, dan yang lain. Hasil ini secara otomatis meragukan bahwa jenglot termasuk makhluk hidup.
Penelitian lain yang pernah dilakukan dokter Djaja Surya Atmaja PhD, dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa contoh kulit jenglot yang diperiksa memiliki karakteristik sebagai DNA (deoxyribosenucleic acid) manusia. Namun Djaja menolak anggapan seolah dia mengakui jenglot sebagai manusia.
Dari penelusuran beberapa literatur, Djaja memeriksa DNA Jenglot pada lokus nomor D1S80 dari kromosom 1 dan HLA-DQA1 dari kromosom 5, serta lima lokus khusus lain dengan teknik PCR (polymerase chain reaction). Pemeriksaan HLA-DLA-DQA1 memberikan hasil positif. Spesimen jenglot itu berasal dari keluarga primata-bisa monyet, bisa pula manusia. Namun dari penyelidikan atas lokus D1S80, Djaja mendapat kepastian bahwa sampel DNA itu berkarakteristik sama dengan manusia. Temuan mengejutkan itu diperkuat dengan kajian mesin PCR.
Lepas dari kontroversi itu, Tri hanya ingin menjadikan MTA sebagai media tempat belajar masyarakat tentang benda-benda bersejarah dan menyertai peradaban umat manusia.
Staf Museum, Subowo menambahkan, untuk menyimpan jenglot tersebut tidak memerlukan persyaratan khusus. Termasuk mitos aneh “mengkonsumsi darah” juga tidak di lakukan. Pihak museum menempatkan jenglot di sebuah toples teransparan dan diletakkan satu ruang bersama gamelan Cokronegoro I dan batu bersejarah.
Jenglot itu memiliki ketinggian sekitar 15 sentimeter dan berwarna hitam pekat. Di bagian tubuhnya banyak ditumbuhi rambut dengan dua taring memanjang di mulutnya. Di bagian bawah pusar dibungkus dengan kain kafan putih. Bagian mata juga sengaja ditutup dengan kain kafan ukuran kecil.
sumber: suara merdeka

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar disini